KisahPara Rasul 4:32-37 memberikan suatu teladan dan gambaran umat percaya yang mengasihi Tuhan. Persembahan persepuluhan bukan merupakan suatu pilihan bagi umat Kristen tetapi kewajiban yang disertai dengan kesadaran dan kerelaan mengembalikan apa yang wajib diberikan kepada Tuhan. 1 Zaman kerajaan. Pembangunan Bait Allah oleh Salomo menuntut upacara penahbisan dengan penyerahan korban persembahan (1 Raj 8:62 dab) dan korban-korban biasa (1 Raj 9:25). Tapi karena sumber informasi itu adalah beberapa kitab tentang 'raja-raja', maka kitab-kitab itu lebih berbicara tentang peranan raja (bnd 2 Raj 16:10 dab) ketimbang 1 Apa itu sesajen? Menurut Dr. Sartini, dosen filsafat Universitas Gadjah Mada, tradisi sesajen adalah semacam bentuk persembahan kepada Tuhan, dewa, roh leluhur, dan makhluk gaib yang tidak kasat mata. Tradisi ini sudah ada sejak sebelum Islam masuk, bahkan sebelum adanya agama Hindu dan Buddha. Selain itu, benda-benda yang dipersiapkan pun GerakanTari Persembahan. Tari Persembahan terdiri atas 8 gerakan dengan keteraturan 14 x 8 ketukan. Adapun jenis gerakan tari meliputi Selembayung, Balam Dua Sekawan, dan Lenggang Melayu Patah Sembilan yang masing-masing gerakan tersebut mengandung makna tersendiri. Gerakan Selembayung. Isilah tabel berikut ini dengan jenis persembahan,diberikan pada dan manfaat nya - 32574195 BAEZUZY BAEZUZY 11.09.2020 Matematika Sekolah Menengah Atas JENIS PERSEMBAHAN:UANG . DIBERIKAN KEPADA: ORANG MISKIN. MANFAAT:UNTUK MENCUKUPI KEBUTUHAN SEHARI HARI. 3) JENIS PERSEMBAHAN: MAINAN . Persembahanbakaran harus diberikan seluruhnya kepada Allah; pemberi persembahan itu tidak boleh menahan satu bagian pun dari binatang itu. (Bdk. Hak 11:30, 31, 39, 40.) Persembahan itu merupakan permohonan kepada Yehuwa untuk menerima, atau menunjukkan perkenan-Nya atas, persembahan dosa yang kadang-kadang menyertai persembahan tersebut. 3bagian,yaitu : 1. Amisa Dana. Artinya berdana berupa benda ( barang) atau materi, contoh berdana. uang,pakaian,makanan,obat-obatan,dll. 2. Dhamma Dana. Artinya dana berupa dhamma atau ajaran (nasehat),contoh seorang bhikkhu. mengajarkan tentang hokum kebenaran; seorang guru mendidik murid-muridnya; orang. 15 Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diberikan dalam penelitian ini adalah : 1. Bagi masyarakat sebagai dokumen sekaligus sebagai informasi tentang perkembangan banguan Pura Puseh yang ada di Desa Banuroja. 2. Bagi peneliti dapat menambah pengetahuan dalam mengkaji permasalahan yang diteliti. 3. 20 Contoh Halaman Persembahan Karya Tulis Ilmiah Untuk Dosen Pembimbing. Halaman persembahan - Ketika selesai menulis sebuah skripsi, tesis, disertasi dan lainnya yang termasuk dalam karya ilmiah, akan tercantum satu halaman persembahan. Pada halaman itu menjadi tempat peneliti untuk mengungkapkan rasa syukur dan terimakasih kepada pihak i8LVg0b. Setelah Tuhan Yesus menjelaskan mengenai Taurat, Dia melanjutkan dengan penjelasan mengenai tiga latihan spiritual, yaitu memberi persembahan, berdoa, dan berpuasa. Yang akan kita bahas pada hari ini adalah mengenai memberi persembahan. Persembahan adalah pengakuan bahwa Tuhanlah pemilik semua uang dan segala harta yang ada di dalam kepemilikan kita. Persembahan juga adalah bentuk ucapan syukur kita karena Tuhan telah memberkati kita. Persembahan bukan pilihan! Persembahan adalah kewajiban orang-orang percaya. Hanya orang-orang Kristen yang palsu, yang tidak mengakui Tuhan sebagai pemilik hartanya, yang menolak memberi persembahan dengan benar. Orang-orang yang sadar siapa dirinya, yaitu mereka yang sadar bahwa mereka bukan siapa-siapa kalau Tuhan tidak menyertai, bahkan mereka tidak akan bertahan hidup jika bukan karena Tuhan, orang-orang inilah yang persembahannya akan diterima oleh Tuhan. Lalu untuk apakah persembahan itu? Persembahan itu bukan untuk memperkaya orang lain. Pendeta-pendeta yang hidup mewah dari persembahan jemaat adalah utusan Iblis yang menyamar menjadi hamba Tuhan. Pendeta-pendeta yang mengambil perpuluhan jemaat adalah maling, demikian dikatakan Pdt. Stephen Tong. Persembahan juga bukan untuk membiayai orang sehingga dia bisa bermalas-malasan. Banyak orang oportunis masuk ke dalam gereja. Berpura-pura setia melayani tetapi sebenarnya mencari keuntungan pribadi. Juga banyak orang-orang yang meminta belas kasihan gereja supaya dia bisa menikmati pembiayaan gereja tanpa harus bekerja keras. Persembahan adalah untuk memelihara orang-orang yang sudah menyerahkan diri sepenuh waktu untuk melayani Tuhan. Persembahan juga adalah untuk pengembangan pekerjaan Tuhan. Selain untuk pelayanan bagi Tuhan, persembahan juga dapat diberikan kepada orang-orang yang memang layak untuk dibantu. Orang-orang yang sudah tidak bisa bekerja, atau yang meskipun sudah bekerja mati-matian tetap kurang, mereka ini perlu dibantu. Juga untuk orang-orang yang mengalami musibah atau penyakit yang dia sendiri tidak sanggup tanggung secara keuangan, mereka ini harus diperhatikan oleh orang-orang Kristen. Juga untuk orang-orang yang memiliki kemampuan studi dan semangat belajar yang tinggi. Dia juga harus diperhatikan oleh kita semua. Tetapi memberi bantuan kepada mereka yang kekurangan ini dapat menimbulkan suatu kesombongan. Seolah-olah kita yang memberi lebih tinggi kedudukannya daripada mereka yang menerima. Ini adalah mental kolonialisme. Pada zaman penjajahan, semua bangsa-bangsa maju menganggap diri lebih hebat dan semua negara jajahan mereka sebagai bangsa rendahan yang perlu dikasihani. Jika kita menolong orang lain, sikap ini harus hilang sama sekali dari hati kita. Kita tidak lebih tinggi dari orang yang kita bantu. Bahkan sangat mungkin kita sedang dipakai Tuhan memberi dukungan kepada seseorang yang akan menjadi orang besar suatu saat nanti. Kita hanya alat yang dipakai oleh Tuhan. Puji Tuhan jika Dia masih berkenan memakai kita untuk menolong orang lain. Tuhanlah yang menolong mereka. Kita hanya alat yang diizinkan berbagian. Ada juga orang yang menolong orang lain supaya mendapat pujian. Ini adalah orang-orang munafik yang tidak mau menolong, hanya mau namanya dikenal orang. Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu ay. 3. Tetapi bagaimana dengan Filipi 45 yang mengatakan “Biarlah kebaikan hatimu diketahui oleh semua orang”? Sekali lagi, semua ada pada hati seseorang. Apakah motivasi kita memberitahukan persembahan kita kepada orang lain? Apakah untuk pujian? Ataukah untuk mendorong orang lain berbagian juga? Jika motivasi kita adalah untuk mendorong orang lain supaya mereka sama-sama memberi persembahan juga, maka ini adalah motivasi yang baik. Tidak ada kepentingan pribadi atau keinginan untuk dipuji di dalam motivasi ini. Tetapi motivasi yang jahat adalah yang ingin dipuji. Orang-orang yang ingin dianggap rohani, hebat, murah hati, dan lain-lain, mereka tidak akan mendapatkan perkenanan dari Allah Bapa di surga. Allah Bapa yang akan memuji kita, bukan manusia. Mengapa mencari pujian dari manusia? Jika Allah semesta alam yang memuji, bukankah itu lebih indah dari pujian raja mana pun? Karena itu jangan membuang pujian dari Allah demi pujian kosong dari manusia. Biarlah kita dihina ataupun disalah mengerti oleh orang-orang dunia, asalkan motivasi hati kita tulus dan bersih di hadapan Tuhan, Dialah yang akan memperkenan perbuatan kita. Untuk direnungkan Menolong orang lain, berdoa, berpuasa, dan semua kegiatan rohani lainnya sangat perlu untuk pertumbuhan iman dan kesalehan kita. Tetapi keinginan untuk dipuji orang lain selalu hadir dan menggagalkan pertumbuhan kita. Karena itu mari kita terus mengevaluasi diri kita. Apakah motivasi kita murni di hadapan Tuhan? Hal pertama yang harus kita perhatikan adalah Apakah saya sangat terganggu kalau disalah mengerti orang lain? Jika kita merasa terganggu karena disalah mengerti, itu wajar. Kita ingin memperbaiki kesalahpahaman orang lain, itu pun wajar. Tetapi kalau kita merasa sangat terganggu sehingga batin kita menjadi gelisah dan tidak tenang, itu adalah hal yang sangat mengganggu. Mungkin saja penerimaan orang lain sudah menjadi berhala kita. Niat berusaha menyenangkan orang lain, diterima, dipuji, dikagumi, ini semua adalah jerat Iblis untuk menjatuhkan iman dan kesalehan kita. Mengapa tidak merasa puas dengan penerimaan Tuhan? Jika Tuhan adalah bagianku, apa lagi yang masih kurang? Lihat Mazmur 231 dan Ratapan 324. Jika Tuhan adalah bagian kita, biarlah kegelisahan kita muncul kalau Tuhan meninggalkan kita, bukan kalau manusia salah mengerti kita. Hal kedua yang menjadi bahan ujian adalah Apakah kita merasa begitu senang kalau mendapat pujian dari manusia? Jika kita dianggap hebat, dianggap rohani, dianggap berarti oleh orang lain, seberapa besar hal itu memengaruhi kita? Siapa yang gila pujian akan hancur. Siapa yang senang dipuji akan terperangkap di dalam jerat Iblis. Jangan senang akan pujian manusia! Siapa sih orang yang memuji kita? Pujian dari Tuhan jauh lebih agung dan jauh lebih berharga daripada pujian siapa pun. Itulah sebabnya orientasi hidup kita akan sangat rusak jika kita hanya mencari penerimaan dan pujian manusia. Jika pujian manusia yang kita cari, maka sebenarnya jiwa kita sedang terganggu. Kita tidak pernah merasa aman dengan diri sendiri, tidak pernah bisa menerima apa yang Tuhan berikan kepada diri sendiri, tidak bersyukur kepada Tuhan, tidak menghargai apa yang Tuhan anugerahkan, karena kita lebih mementingkan pujian manusia, maka tanpa sadar kita telah menyingkirkan Tuhan dan menyembah berhala bernama “pujian orang lain”. Tuhan akan sangat marah! Hal ketiga yang harus kita perhatikan Seberapa besar kepedulian kita atas kebaikan dari orang yang kita tolong? Jika kita memberikan seribu rupiah kepada pengemis di pinggir jalan, bahkan jika kita memberi lima puluh ribu rupiah sekalipun, itu tidak berarti kita peduli kepada dia. Setelah kita beri uang lalu pergi, kita segera lupa pengemis yang baru kita berikan uang itu. Kita tidak pernah sungguh-sungguh ingin yang terbaik bagi pengemis itu. Ketika kita memberikan persembahan atau menolong orang lain kita harus ingin yang terbaik untuk orang yang kita tolong. Itu sebabnya memberi uang saja tidak cukup untuk menunjukkan beban yang sejati. Berikan uang kita, tetapi beri juga waktu dan tenaga kita, itu baru beban yang sejati. Kita terbeban penginjilan? Berikan uang kita untuk penginjilan. Jangan hanya bicara terbeban tetapi keluarkan uang sedikit sekali untuk penginjilan. Tetapi setelah memberikan uang yang banyak, juga harus berikan waktu kita. Sediakan waktu untuk memberitakan Injil. Sesudah itu jangan lupa sediakan tenaga kita. Harus terjun dan harus memberitakan Injil. Inilah beban yang sejati! Yang sudah sediakan waktu dan tenaga, berikan juga uang! Yang sudah berikan uang, berikan juga waktu dan tenaga! Bapa kita yang melihat apa yang kita kerjakan dengan sepenuh hati dan dengan motivasi yang murni akan membalasnya kepada kita tanpa diketahui banyak orang. Doa Tuhan, tolong kami untuk memiliki hati yang tulus dan motivasi yang murni di dalam memberikan persembahan. Matikanlah keinginan untuk dikagumi dan dipuji manusia. Itu hanyalah kemuliaan kosong yang palsu. Kami ingin dipuji Tuhan kami. Karena itu pimpinlah kami, berikan kami hati yang rela, ya Tuhan, dan kami akan melayani, memberi waktu, tenaga, dan uang kami untuk menolong orang lain dan melakukan pekerjaan demi nama Tuhan kami. JP Ada begitu banyak warga jemaat yang menanyakan tentang Persembahan yang benar itu yang bagaimana? Mengapa di GKJW tidak ditekankan persembahan persepuluhan? Pada satu sisi pertanyaan-pertanyaan ini menyenangkan, karena tersirat adanya semangat untuk mempersembahkan secara bertanggungjawab. Namun di sisi lain, juga sedikit merisaukan, mengapa? Karena sudah begitu lama kita hidup sebagai orang percaya, tetapi mengapa sesuatu yang seharusnya sudah menjadi bagian atau bahkan identitas setiap orang percaya, ternyata masih menjadi pertanyaan. Apakah hal ini disebabkan karena Alkitab kurang jelas memberikan gambaran tentang persembahan? Ataukah karena tidak ada ajaran secara resmi dan baku dari Greja Kristen Jawi Wetan tentang persembahan? Ataukah gereja tidak cukup sering memberi pemahaman tentang persembahan? Atau bingung karena ada bermacam-macam persembahan persembahan perpuluhan, persembahan bulanan, persembahan kemandirian, dll? Bagaimana pun pertanyaan di atas harus dijawab. Untuk menjawab pertanyaan di atas, berikut ini akan disampaikan terlebih dahulu beberapa kesaksian atau ungkapan, dan hasil percakapan yang berhubungan dengan persembahan dari beberapa orang yang sempat saya catat. Seorang ibu menerima wesel dari anaknya yang telah berkeluarga. Keadaan keluarga anaknya secara ekonomi termasuk sederhana. Di kertas wesel di kolom berita tertulis sbb. Sekian rupiah tolong dimasukkan ke kantong kolekte gereja keluarga ini memiliki kenangan manis saat sekolah minggu; sekian rupiah tolong diberikan kepada penarik gerobak sampah; sekian ribu rupiah tolong diberikan kepada pembantu rumah. Sang ibu sangat terharu menerima wesel itu, karena anaknya -sekalipun hidupnya sederhana- namun masih mau mengingat orang lain. GKJW Jemaat Surabaya, tahun 1985 Pada petang hari seorang janda yang hidupnya sederhana menemui Pak Pendeta. Dia bercerita “Pak, saya baru saja menjual rumah kecil saya seharga 25 juta rp. Anak saya sudah berkeluarga semua. Sebagian uang itu saya berikan kepada anak saya, dan ini 5 juta rp. saya serahkan untuk gereja” GKJW Jemaat Malang, 1999 Untuk membedakan apakah seseorang adalah warga jemaat yang sungguh-sungguh mempraktekkan cara hidup bersyukur atau tidak, itu sederhana saja. Lihatlah bagaimana ia menyusun prioritas pengeluaran atas gaji atau penghasilannya. Orang percaya yang baik akan menempatkan persembahan sebagai urutan pertama bukan soal; jumlahnya, tetapi prinsip sikap bahwa pengeluaran pertama yang segera harus disisihkan adalah persembahan persembahan bulanan, Minggu, dll, baru pengeluaran lainnya. Prinsip ini adalah tanda pengakuan bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa. GKJW Jemaat Malang, 2002. Seorang warga jemaat menemui kasir di kantor gereja untuk menyerahkan persembahan. Dia sodorkan seratus ribu rupiah, kepada kasir, namun sesaat kemudian ia menarik kembali uang seratus ribu itu, dan diganti dengan uang lima puluh ribu, sambil mengatakan “ah, kebanyakan.” Padahal Ybs. secara ekonomi termasuk kategori berkecukupan. GKJW Jemaat Malang, 2002 Jemaat ingin membeli tanah untuk membangun gereja baru. Panitia hanya memiliki uang 5 juta. Lalu ada seseorang yang menawarkan se bidang tanah seharga 204 juta rupiah. Pemilik tanah memberi waktu kepada panitia kurang dari sebulan. Panitia bingung, mungkinkah tanah itu terbeli? Namun hanya selang beberapa hari setelah penawaran itu, seorang warga jemaat menemui pendeta. “Pak, jangan bilang siapa-siapa. Biarlah uang 204 juta rupiah itu saya yang melunasinya. Saya sudah membicarakan dengan istri dan anak saya, dan mereka semua setuju!” GKJW Jemaat Malang 2002 Seorang Bapak mengatakan kepada Pendeta “Saya sangat bersyukur dan terharu ketika anak saya menyerahkan gaji pertamanya ke gereja..” GKJW Jemaat Malang, 2000 Seorang gadis akan memasuki usia ke 17. Orang tuanya bertanya “Kamu mau hadiah apa?” Si gadis menjawab “Minta dibelikan organ”. “Lho, kita, kan, sudah punya organ!” sahut orang tua si gadis. “Organ itu bukan untuk kita, tetapi akan kita serahkan ke satu jemaat kecil. Sebab sewaktu saya berkunjung ke sana, jemaat itu tidak memiliki organ” kata si gadis. GKJW Jemaat Jombang, 1989 Mbah Kahar -seorang kakek warga GKJW Jemaat Sukolilo- setiap bulan mendapatkan bantuan uang dari gerja untuk meringankan beban hidupnya sehari-hari. Pada bulan april yang lalu 2004 ia dipanggil Tuhan. Hal yang membuat semua warga jemaat terharu adalah ia membuat “wasiat” yang isinya adalah pesan agar sebuah amplop yang isinya Rp sepuluh ribu rupiah agar diserahkan ke gereja untuk persembahan. Ditengah kemiskinan, ia memiliki jiwa mempersembahkan yang luar biasa. Ia mempersembahkan jauh lebih besar daripada sepersepuluh persepuluhan dari yang ia miliki. Informasi dari Pdt. Suko Tiyarno, MTh. GKJW Jemaat Sukolilo, 2004. Dari contoh-contoh di atas menjadi amat jelas bagi kita, betapa beraneka ragamnya cara kita menghayati dan mewujudkan makna persembahan. Kita bisa menggumuli di antara kejadian-kejadian di atas, mana yang kiranya lebih berkenan di hadapan Tuhan, dan mana yang tidak. Sekarang di bawah ini akan disampaikan kesaksian Alkitab tentang persembahan. Persembahan di Perjanjian Lama Kita mulai dari kitab Kejadian 4. Di sini kita berjumpa dengan persembahan oleh Kain dan Habil. Tidak disebutkan persyaratan persembahan. Mereka hanya mempersembahkan sebagian dari harta yang mereka miliki. Kita tidak tahu mengapa persembahan Kain ditolak, sementara persembahan Habil diterima. Kita berhadapan dengan “hak prerogatif/ istimewa” Allah dalam menilai persembahan. Artinya, siapa pun bisa saja mengklaim telah mempraktekkan pemberian persembahan secara benar, tetapi pada hakekatnya penilai sejati hanya Tuhan. Kain bisa saja merasa telah memberikan yang terbaik untuk Tuhan, tetapi di depan Tuhan apa yang dianggap terbaik bagi manusia bisa berarti belum apa-apa di hadapan Tuhan. Persembahan agaknya tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia dalam hal ini atasn, raja. Perhatikan dua kutipan dari Kejadian 4311-15 dan Yehezkiel 45 16. Perjanjian Lama juga menyampaikan informasi tentang adanya persembahan khusus dari setiap orang yang tergerak hatinya untuk membantu terpenuhinya kebutuhan bagi rumah Tuhan, jadi bukan merupakan kewajiban bagi setiap orang. Fakta ini menyiratkan bahwa di jemaat selalu saja ada sebagian warga jemaat yang memiliki kepekaan yang amat tinggi untuk menyisihkan sebagian dari hartanya untuk keperluan gereja. Perhatikan isi kitab Keluaran 3521 di bawah ini. “Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu.” Persembahan pendamaian yaitu persembahan yang diserahkan oleh umat Tuhan pada jaman dahulu untuk “menebus” pelanggaran yang mereka lakukan dalam hidup. Dengan menyerahkan persembahan pendamaian, maka hidup mereka kembali disucikan. Perhatikan, misalnya Keluaran 30 20-dst Ada pula persembahan yang hanya boleh digunakan oleh orang tertentu keluarga Imam, orang lain tidak boleh. Perhatikan Imamat 22 10-12 “10 Setiap orang awam janganlah memakan persembahan kudus; demikian juga pendatang yang tinggal pada imam ataupun orang Tetapi apabila seseorang telah dibeli oleh imam dengan uangnya menjadi budak beliannya, maka orang itu boleh turut memakannya, demikian juga mereka yang lahir di Apabila anak perempuan imam bersuamikan orang awam, janganlah ia makan persembahan khusus dari persembahan-persembahan kudus.” Menyerahkan beberapa persembahan sekaligus, yaitu persembahan persepuluhan,persembahan khusus, dan persembahan korban bakaran. Perhatikan Keluaran 12 11 “…maka ke tempat yang dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam di sana, haruslah kamu bawa semuanya yang kuperintahkan kepadamu, yakni korban bakaran dan korban sembelihanmu, persembahan persepuluhanmu dan persembahan khususmu dan segala korban nazarmu yang terpilih, yang kamu nazarkan kepada TUHAN. Menyerahkan persembahan persepuluhan Maleakhi 3 10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Tentang persembahan persepuluhan ini dalam prakteknya ternyata tidak sederhana, karena bukan sekedar sepersepuluh dari penghasilan. Kita perhatikan misalnya pada kitab Imamat 27 30 “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN. 31 Tetapi jikalau seseorang mau menebus juga sebagian dari persembahan persepuluhannya itu, maka ia harus menambah seperlima. 32 Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan”Dalam tradisi umat Israel Perjanjian Lama persembahan persepuluhan ini diberikan kepada kaum Lewi. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki mata pencaharian lain selain bekerja di bait Allah, di samping itu mereka tidak mendapatkan harta warisan. Perhatikan kitab Bilangan 1821 “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.” Sebaliknya, kaum Lewi juga mempunyai kewajiban menyerahkan sepersepuluh dari persembahan persepuluhan yang mereka terima. Catatan Sebenarnya di Perjanjian Lama masih terdapat banyak lagi aturan tentang persembahan atau korban, tetapi untuk kali ini, contoh-contoh di atas dipandang cukup untuk memberi gambaran betapa perihal persembahan di Perjanjian Lama tidak sederhana. Persembahan di Perjanjian Baru Persembahan sebagai simbol rasa hormat dan kerinduan untuk memuliakan Tuhan. Perhatikan Injil Matius 211 “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Di ayat ini tidak disebutkan satuan dari barang yang dipersembahkan. Artinya, kita tidak tahu jumlah yang mereka persembahkan Apakah sepersepuluh dari yang mereka miliki atau…? Kita hanya bisa menduga bahwa mereka ingin memberikan yang terbaik yang mereka miliki untuk Tuhannya. Tuhan Yesus agaknya tidak mengutamakan persembahan dalam arti uang atau benda, tetapi yang jauh lebih penting adalah kesediaan seseorang untuk bertobat. Perhatikan Injil Matius 913 “Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Bukan jumlah atau banyak-sedikitnya persembahan yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, melainkan bobot pengorbanan yang mendasari persembahan yang diberikan. Pemahaman ini bisa kita baca di Injil Markus 12 41 “Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” Secara jumlah pasti amat sedikit yang diberikan oleh janda itu, tetapi secara prosentase dibandingkan dengan harta yang dimiliki, nilainya bisa lebih dari 100% “..ia memberi dari kekurangannya…”. Sebaliknya persembahan dari orang kaya, secara jumlah pasti lebih besar, tetapi secara prosentase dari harta milik mereka, pastilah tidak lebih dari 1/10 “…mereka memberi dari kelimpahannya….”. Janda miskin memberi persembahan dengan bobot pengorbanan yang amat besar, sementara orang kaya memberi persembahan dengan ringan saja -tanpa beban dan pengorbanan– karena memang hanya diambilkan sebagian kecil sangat kecil? dari harta miliknya. Rasul Paulus sebagai salah satu tokoh Alkitab menghayati persembahan bukan hanya uang atau benda, tetapi seluruh hidup. Perhatikan Roma 121 “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah itu adalah ibadahmu yang sejati.” Istilah “tubuh = seluruh hidup” artinya menghayati dan mempraktekkan hidup untuk memusatkan perhatian kepada orang lain, bukan lagi untuk dirinya sendiri. Bandingkan dengan Injil Yohanes 21 18 “…tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Bandingkan juga dengan cerita tentang anak muda yang kaya. Ia sudah menjalankan semua ajaran di Perjanjian Lama tentunya termasuk persembahan persepuluhan dan jenis-jenis persembahan lainnya, tetapi di depan Yesus anak muda itu dianggap belum melakukan sesuatu yang berarti Matius 1921″ Kata Yesus kepadanya “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.“ Dan, ternyata, pemuda tadi masih lebih terikat pada hartanya daripada terikat pada Kristus. Perhatikan 2 Timotius 46 “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat.” Pada usia lanjut Rasul Paulus menenggok ke belakang, bagaimana ia telah mencurahkan segala yang ia miliki -jasmani dan rohani- untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Kata “darah” di dalam kalimat di atas adalah juga melambangkan berbagai penderitaan dan kesusahan yang pernah dialaminya sebagai pemberita injil, dan itu dihayati sebagai bagian dari persembahan yang diberikan Paulus kepada Tuhan. Perhatikan Ibrani 108 “Di atas Ia berkata “Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya” meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat.” Pada ayat ini kita mendapat gambaran tentang pemahaman yang baru tentang hubungan antara manusia dengan Tuhan. Sementara di Perjanjian Lama hubungan itu antara lain ditandai dengan persembahan sebagai simbol kesetiaan dan kepatuhan umat terhadap Tuhannya, sedangkan di dalam Perjanjian Baru hubungan antara manusia dengan Tuhan ditandai dengan pemberian anugerah keselamatan dari Yesus Kristus. Di Perjanjian Baru kesetiaan dan kepatuhan orang percaya kepada Tuhan-nya tidak lagi ditandai oleh besar kecilnya persembahan, tetapi oleh cara hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerajaan Allah, yaitu kasih, keadilan, kebenaran, suka cita, damai sejahtera. Perhatikan beberapa kutipan di bawah ini. Perhatikan Matius 2323 “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Perhatikan Lukas 1142 “Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.” Perhatikan 1 Petrus 25 “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Ayat ini ingin menegaskan tentang makna iman Kristen yang sudah mengalami pembaharuan karena pengorbanan Kristus. Hal yang terpenting bukan lagi memberi persembahan yang berupa benda, karena persembahan berupa benda tidak lagi menentukan keselamatan seseorang. Persembahan rohani jauh lebih berharga, yaitu hati bersih yang menerangi setiap tutur kata dan perbuatan kita setiap saat. Lalu Bagaimana? Baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru memberikan informasi yang amat beragam tentang persembahan. Tentulah tidak bijak kalau kita hanya mau menekankan atau mengambil satu jenis persembahan yang terdapat di Perjanjian Lama, dan mengesampingkan macam-macam persembahan lainnya. Oleh karena itu menjadi semakin jelas bagi kita bahwa saat ini, untuk memahami persembahan, tidak bisa lagi diambil secara hurufiah baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Sebab kalau kita mengambil begitu saja makna persembahan/ persembahan korban dari Alkitab, pastilah akan kita temui berbagai kesulitan. Sebab aturan tentang persembahan di Perjanjian Lama amat rumit. Contoh kerumitannya, misalnya, bagaimana kita memahami aturan di Perjanjian Lama “memberi persembahan terbaik buat Tuhan?” Ternyata yang dimaksud adalah, kalau persembahan berupa korban binatang, maka kata “..terbaik..” itu artinya jantan lebih diutamakan Imamat 13; berumur 3 tahun I Samuel 1 24; fisiknya sempurna Imamat 31, warna merah Bilangan 19 2. Satu contoh lagi, dapatkah kita menerapkan begitu saja isi Injil Matius 1010 ini “Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.” Apakah aturan semacam ini akan kita ambil dan terapkan begitu saja untuk konteks saat ini, tentu tidak bukan? Masih ada banyak lagi bagian dari Alkitab yang tidak bisa diterapkan secara langsung untuk kehidupan saat ini, harus dirumuskan terlebih dahulu. Demikian pula halnya dengan persembahan kita tidak bisa menyatakan bahwa persembahan yang satu lebih utama daripada jenis persembahan lainnya. Kalau kita mau menekankan secara hurufiah satu jenis persembahan misalnya persepuluhan, maka kita tidak bisa membuang begitu saja aturan persembahan lainnya yang tertulis di Alkitab. Sebab di sini muncul persoalan Siapa yang bisa memastikan bahwa persembahan yang kita prioritaskan itu sungguh-sungguh lebih berkenan di hadapan Tuhan? Oleh karena itu kita perlu belajar untuk rendah hati dan mau menyadari keterbatasan pemahaman kita atas isi Alkitab. Konsep persembahan di Perjanjian Lama antara lain adalah sebagai sarana pembinaan umat dan sebagai tanda kesetiaan dan kepatuhan umat terhadap Tuhan. Bagi umat Israel di jaman Perjanjian Lama, hukum itu memang mutlak. Kesetiaan dan kepatuhan umat Israel Perjanjian Lama terhadap aturan persembahan itu mengikat sekali. Artinya, ketidaksetiaan dan ketidakpatuhan mereka terhadap aturan itu akan membawa mereka kepada kebinasaan Perhatikan kitab Amos 5 7 dst.. Sedangkan konsep persembahan di Perjanjian Baru berbeda. Persembahan tidak menentukan keselamatan, tetapi sebagai salah satu buah ucapan syukur. Barangkali ilustrasi berikut ini bisa sedikit membantu. Hubungan antara Allah dengan umat Israel di Perjanjian Lama ibarat orang tua Tuhan dengan anak kecil umat Israel. Orang tua bisa membuat aturan yang tegas untuk anaknya yang masih kecil Pulang sekolah cuci tangan, ganti baju, makan siang lalu istirahat; pukul mandi; pukul 17-30 nonton TV atau bermain; dst. Tidak patuh terhadap aturan itu dihukum! Aturan semacam itu amat diperlukan untuk pembinaan, latihan disiplin dan persiapan masa depan. Perjanjian Baru tidak lagi seperti itu, Tuhan telah menempatkan manusia pada posisi orang dewasa, seseorang yang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri Yohanes 3 16. Tentulah tidak wajar kalau kepada anak yang sudah mahasiswa, orang tua tetap memberlakukan aturan Pukul harus mandi, pukul nonton TV, pukul belajar, dst. Bukankah orang tua cukup mengatakan “Kamu sudah besar/dewasa Belajarlah baik-baik!” Seorang anak yang sudah dewasa sudah bisa menangkap makna perintah sederhana itu. Sedangkan dalam prakteknya anak yang dewasa itu bisa saja menata sendiri irama hidupnya dengan mengikuti aturan yang berlaku saat ia masih kecil. Bedanya adalah, ketika masih kanak-kanak ia setia dan patuh kepada aturan karena takut hukuman, sedangkan ketika dewasa ia melaksanakan peraturan itu dengan kesadarannya sendiri, dengan rasa syukur, bukan karena takut hukuman. Demikian pula halnya dengan pemahaman tentang persembahan. Kesimpulan Setelah kita amati perihal persembahan baik di Perjanjian Lama maupun di Perjanjian Baru, maka kita menyimpulkan tentang persembahan sbb. Persembahan yang kita lakukan saat ini bukan lagi sebagai “korban” baik untuk penebusan dosa atau sebagai “alat” untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Tuhan Yesus dengan karya penebusanNya telah memperbaharui secara mendasar makna persembahan. Jangankan sepersepuluh, mempersembahkan sepertiga atau setengah dari yang kita miliki pun tidak akan cukup untuk mensyukuri kebaikan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan Yesus tidak pernah menyinggung soal jumlah dalam hal persembahan. Persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Hal yang paling utama dalam persembahan adalah hati yang bersyukur. Persembahan juga sebagai wujud nyata pengakuan kita bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa. Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk turut menopang pekerjaan Tuhan di dunia ini. Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk tidak membiarkan uang dan harta benda menguasai hidup kita, dengan cara mau mengurangi uang atau harta benda yang ada pada diri kita untuk kebutuhan pelayanan. Catatan Dengan pemahaman di atas bukan berarti kita bisa seenaknya memberikan persembahan. Kalau kita sudah dewasa pastilah akan secara dewasa pula memahami hal-hal di atas. Artinya, besar kecilnya persembahan tentulah sesuai dengan keadaan masing-masing bisa menjadi salah satu tanda kedewasaan iman seseorang. Langkah Praktis Secara teknis persembahan bisa kita wujudkan berupa persembahan rutin dan persembahan khusus. Persembahan rutin Persembahan yang secara ajeg kita siapkan, misalnya Persembahan bulanan, atau kalau mau memakai istilah persepuluhan Maleakhi 3 atau seperlima Imamat 6 juga tidak masalah. Catatan Persembahan persepuluhan atau seperlima disebut di atas semata-mata hanya sebagai salah satu pilihan cara kita mendisiplin diri dalam bersyukur kepada Tuhan. Sebab, kita tidak lagi menerapkan persepuluhan seperti di Perjanjian Lama, sebab kalau diterapkan persis seperti di Perjanjian Lama akan berbenturan dengan aturan gereja GKJW. Karena di Perjanjian Lama persembahan persepuluhan diberikan kepada kaum Lewi untuk jaman sekarang -kira-kira- mirip pendeta. Padahal di GKJW persembahan apa pun dipakai untuk berbagai macam kebutuhan gereja. Persembahan untuk ibadat-ibadat Minggu, Hari Raya Persembahan, Ibadat Rumah tangga, dlsb. Persembahan khusus Persembahan yang kita serahkan ke gereja ketika mengalami saat-saat istimewa dalam kehidupan kita. Tentang persembahan khusus ini, saya menyampaikan jenis-jenis persembahan syukur yang pernah dilaksanakan oleh warga GKJW di berbagai jemaat, yakni, Sembuh dari sakit; ulang tahun; naik pangkat/ karier; naik kelas/ lulus ujian; menempati rumah baru; ulang tahun perkawinan; memenangkan tender; membuka usaha baru; dikaruniai putra/i; diterima kerja; memasuki masa pensiun; berhasil menjual rumah/ tanah. Ketika kita memberikan persembahan apa pun dan berapa pun, haruslah dijauhkan dari “harapan tersembunyi” agar Tuhan memberikan kembali berlipatganda dari yang telah kita persembahkan. Kalau disertai “harapan tersembunyi” seperti itu berarti persembahan kita tidak lagi tulus. Bukankah hal itu justru pertanda bahwa semangat mempersembahkan kita adalah semangat materialistis, semangat keserakahan, bukan semangat ucapan syukur? Tentulah hal itu justru bertentangan dengan kehendak Tuhan, bukan? Bagi orang percaya yang dewasa, suka cita hidup dan berkat Tuhan tidak ditentukan oleh harta dan uang. Bandingkan dengan penghayatan Ayub Ayub 2 10. Oleh karena itu semangat mempersembahkan adalah semangat untuk semakin mengasihi Tuhan lebih dari hari-hari yang telah lewat. Adalah tugas kita semua untuk terus belajar agar semakin dimampukan untuk semakin dewasa iman. Sebab pertumbuhan gereja yang benar tidak ditentukan oleh uang, tetapi oleh iman warga jemaat yang semakin dewasa. Tentulah juga dipahami bahwa disamping uang, banyak di antara kita yang juga memberikan persembahan yang luar biasa nilainya, Tenaga, waktu, keahlian, dlsb. “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. -Lukas 6 43 — Foto By GFreihalter – Own work, CC BY-SA Tags Persembahan, Teologi Bagikan Entri Ini 1 Jenis Persembahan Peralatan sekolahDiberikan kepada Panti asuhanManfaat untuk membantu belajar kepada anak panti asuhan2 Jenis Persembahan UangDiberikan kepada Orang MiskinManfaat Untuk Mencukupi Kebutuhan Sehari- Hari3 Jenis Persembahan MainanDiberikan Kepada Anak Yang Tidak Mampu Membeli MainanManfaat Menyenangkan Anak4. Jenis Persembahan UangDi Berikan padagerejaManfaat Dapat membantu perlengkapan gerejaJenis persembahan;Persembahan pada zaman perjanjian Lama berupa korbanKorban bakaranKorban keselamatanKorban pengampunanKorban syukurKorban perpuluhanKorban penghapus dosaDiberikan kepadaSegala persembahan diberikan kepada Tuhan sebagai ucapan doaPersembahan dari hasil pertama diberikan kepada Tuhan dan hasilnya sebagian diberi kepada Imam Lewi masa ituManfaatMenghapus dosaUcapan SyukurBentuk penghormatanMembangun bait AllahDiberi kepada Imam LewiMaaf Kalau Salah^^